Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar

Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar

pada Siswa Sekolah Dasar di Surabaya

A. Latar Belakang

Gangguan kesulitan belajar (learning disabilities/ LD) merupakan salah satu permasalahan yang banyak ditemui dalam dunia pendidikan. LD menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas (Yusuf, M, 2003). Penelitian sebelumnya oleh Balitbang Dikbud dengan menggunakan instrumen khusus dalam peneitian di empat provinsi pada 1996 dan dilaporkan 1997, menemukan bahwa terdapat sekitar 10 % anak mengalami kecsulitan belajar menulis, 9 % mengalami kesulitan belajar membaca, dan lebih dari 8 % mengalami kesulitan berhitung. Di samping itu, diketahui pula bahwa 22 % anak berkesulitan belajar mempunyai intelegensi tinggi, 25 % sedang dan 52 % kurang. Sejalan dengan hasil penemuan tersebut, dari hasil doagnosis terhadap 659 pasien berkesulitan belajar di RS dr. Karyadin Semarang dalam kurun wakru 1991, ditemukan 26.3 % mengalami ganguan pemusatan perhatian plus Disfungsi Minimal Otak (DMO) lain, 18.6 % mengalami disfasia (gangguan bahasa), disleksia (gangguan membaca) dan diskalkulia (gangguan berhiung) (Hartono, 1991 dalam Yusuf, M, 2003). Menurut Hallahan et al (dalam Abdurahman, M, 1999) jumlah anak berkesulitan belajar meningkat secara dramatis. Dari pemaparan diatas jelas terlihat bahwa LD merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siswa, dengan prevalensi yang cenderung meningkat. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya kemampuan siswa dalam menguasai tujuan belajar yang harus dicapainya, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajarnya. Sebagai akibatnya adalah adanya kendala dalam kelancaran proses belajar. Banyak siswa yang mengulang disebabkan karena mereka mengalami LD secara akademis.

Sehubungan dengan jumlah siswa yang mengulang, potret pendidikan di kota Surabaya tahun 2004/2005, khususnya pada pendidikan dasar terlihat jumlah murid SDN (Sekolah Dasar Negeri)/Swasta yang mengulang sebanyak 4.0954 dari total 231.377. Implikasi dari fenomena ini menjadi amat menarik karena bertentangan dengan kebijakan pemerataan kesempatan pendidikan. Dengan kata lain adanya murid yang mengulang menjadikan bangku yang seharusnya dapat ditempati oleh siswa baru atau murid yang naik kelas menjadi terbatasi. Hal ini tentunya mempengaruhi tingkat efisiensi pendidikan (Sumber : Data dari Dinas P dan K Kota Surabaya, 2005). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permasalahan LD berdampak pada prestasi akademik siswa secara khusus dan secara secara umum berdampak pada kurangnya efisiensi dan efektivitas pendidikan.

Berkait dengan permasalahan diatas, diperlukan penanganan yang tepat sebagai bentuk intervensi LD. Agar dapat melakukan penanganan secara tepat, harus didahului oleh identifikasi yang tepat pula. Oleh karena itu diperlukan penelitian yang dapat mengindentifikasi LD secara tepat sehingga dapat disusun model intervensi yang tepat pula.

B. Tujuan

1. Mengidentifikasi bentuk-bentuk gangguan kesulitan belajar (LD) dalam jenis gangguan belajar membaca, menulis dan matematika/berhitung.

2. Mendapatkan model intervensi yang dapat digunakan dalam menangani siswa berkesulitan belajar di kelas

C. Metode

Tipe penelitian adalah deskriptif eksplanatif, dimana penelitian ini berupaya untuk mendapatkan gambaran secara rinci dan komprehensif dalam mengidentifikasi gangguan kesulitan belajar pada siswa SD yang mengalami permasalahan akademis dalam bentuk gangguan kesulitan belajar serta menjelaskan model intervensi yang dapat digunakan untuk menanganinya. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa SD yang berasal dari 5 SDN di Surabaya. Jumlah keseluruhan populasi adalah 1023 anak dari kelas I hingga VI dari seluruh sekolah yang digunakan sebagai tempat penelitian

 

D. Subjek penelitian :

Penentuan sample menggunakan purposif yaitu kelas IV, V dan VI yang mengalami hambatan belajar dan berprestasi rendah. Penentuan pada kelas IV, V dan VI didasari pemahaman bahwa kategori kesulitan belajar akademik biasanya tidak terdiagnosa hingga anak berada di kelas tiga atau setelahnya (Graziano, 2002)

E. Teknik pengambilan data

Teknik – teknik yang digunakan untuk menggali data dalam penelitian ini adalah : Observasi, Wawancara, Tes Formal dan Tes Informal.

F. Hasil penelitian

1. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa dari 510 siswa kelas IV, V dan VI yang berasal dari lima SDN di Surabaya, yaitu Mulyorejo II, Kertajaya I, Mojo IX, Mojo X dan Gubeng III, sebanyak 112 orang mengalami gangguan kesulitan belajar baik dalam katagori disleksia, disgrafia dan atau diskalkulia. Dengan kata lain, dari seluru siswa kelas IV, V dan VI pada kelima SDN tersebut, jumlah siswa yang mengalami LD sebesar 19.8 %. Berdasarkan jenjang kelas, ditemukan bahwa secara keseluruhan jumlah siswa yang mengalami LD paling banyak terdapat di kelas lima. Secara umum siswa yang mengalami LD paling banyak berada pada rentang usia 10-11 tahun. Berdasarkan data, siswa yang mengami LD lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dibanding perempuan, meskipun selisihnya tidak terlalu besar. Meskipun demikian pada SDN Mojo IX proporsi siswa perempuan yang mengalami LD lebih besar dibanding siswa laki-laki. Sebaran taraf intelegensi siswa yang mengalami LD menunjukkan bahwa : 49 anak (43.75 %) berada pada level average, 21 anak (18.75 %) berada pada level high average, 26 anak (23.21 %) berada pada level superior dan 17 anak (15.18 %) berada pada level very superior. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa yang mengalami LD pada dasarnya memiliki potensi intelektual yang cukup bagus, hanya saja pada ketrampilan akademik tertentu ia menunjukkan keterbatasan

 

 

 

 

 

 

2. Hasil Penelitian tentang Identifikasi Disleksia, Disgrafia dan Diskalkulia pada Subyek

Penelitian

  1. Disleksia

Berdasarkan hasil temuan dilapangan, bentuk-bentuk perilaku yang ditunjukkan oleh subyek penelitian sebagai karakteristik siswa yang mengalami dari LD disleksia adalah :

1. Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca

2. Menelusuri tiap baris yang sedang dibaca dari kiri kanan dengan jari

3. Menelusuri tiap baris bacaan ke bawah dengan jari

4. Menggerakkan kepala, bukan matanya yang bergerak

5. Menempatkan buku dengan cara yang aneh

6. Menempatkan buku terlalu dekat dengan mata

7. Sering melihat pada gambar jika ada

8. Mulutnya komat kamit waktu mermbaca

9. Membaca kata demi kata

10. Membaca terlalu cepat

11. Membaca tanpa ekspresi

12. Melakukan analisis tetapi tidak mensintesiskan

13. Adanya nada suara yang aneh atau tegang yang menandakan adanya keputusasaan

14. Membaca terbata-bata

15. Membaca dengan bantuan guru

16. Membaca tanpa memperhatikan tanda baca

 

 

 

b. Disgrafia

Berdasarkan temuan di lapangan, perilaku-perilaku subyek penelitian yang mengindikasikan karakteristik LD disgrafia adalah sebagai berikut :

1. Menulis dengan buruk (tiadanya jarak antar kalimat dan jarak tiap kata/huruf, bentuk huruf, kemiringan huruf, tekanan pada kertas serta cara memegang pensil),

2. Mengalami kesulitan mengeja (pengurangan huruf, mencerminkan dialek, pembalikan huruf dalam kata, pembalikan konsonan atau vokal, pembalikan suku kata, penambahan huruf),

3. Menunjukkan kesalahan memenggal suku kata

4. Kurang memperhatikan huruf besar dan kecil serta tanda baca

c. Diskalkulia

Berdasarkan hasil temuan dilapangan, perilaku-perilaku yang ditunjukkan subyek penelitian sebagai karakteristik LD diskalkulia adalah : Kekurangan pemahaman tentang (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, (5) tulisan yang tidak terbaca

3. Hasil Identifikasi Kematangan Sosial siswa yang mengalami Gangguan Kesulitan Belajar.

Berdasarkan pengukuran menggunakan VSMS dan tes kepribadian yang diungkap melalui tes proyektif BAUM-DAM, para siswa yang teridentifikasi mengalami LD menunjukkan karakteristik :

1). Kurang matang

2). Motivasi rendah

3). Penyesuaian sosial kurang memadai

4). Toleransi terhadap stress rendah

 

 

 

4. Rincian Hasil Penelitian di setiap SDN yang menjadi Lokasi penelitian

a. Hasil Penelitian di SDN Mulyorejo II

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Mulyorejo adalah kelas V, yaitu sebesar 45,45 %. Sedangkan pada kelas IV sebesar 27.27 % dan kelas VI sebesar 27.27 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 8-9 tahun menunjukkan prosentase yang paling rendah, yaitu 18.18 %, sedangkan pada rentang usia 10-11 tahun adalah 54.54 % dan pada usia 12-13 tahun sebesar 27.27 %. Jenis kelamin siswa laki-laki yang mengalami LD sebesar 48.48 % sedangkan siswa perempuan sebesar 52.52 %. Selisih antara siswa laki-laki dan perempuan tidak besar, dengan kata lain tidak ada perbedaan yang berarti berdasarkan jenis kelamin. 42,42 % siswa yang mengalami LD memiliki intelegensi yang tergolong average/rata-rata. Sedangkan pada taraf very superior sebesar 6 %. Siswa yang taraf intelegensinya tergolong high average sebesar 36.36 % dan siswa yang tergolong superior memiliki prosorsi sebanyak 12.12 %.

b.Hasil Penelitian di SDN Kertajaya I

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Kertajaya I adalah kelas V, yaitu sebesar 66.67 %. Sedangkan pada kelas IV sebesar 11.11 % dan kelas VI sebesar 22.22 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 8-9 tahun menunjukkan prosentase yang paling rendah, yaitu 0 %, sedangkan pada rentang usia 10-11 tahun adalah 83.33 % dan pada usia 12-13 tahun sebesar 16.67 %. Berdasarkan jenis kelamin, siswa yang mengalami LD di SDN Kertajaya I sebanyak 75 % adalah siswa laki-laki. Sedangkan siswa perempuan hanya 25 %. Sebaran taraf intelegensi siswa yang mengalami LD, terbesar pada taraf average yaitu 50 %. Sedangkan pada taraf high average prosentasenya hanya 5.6 % dan merupakan prosentase terendah. Sebanyak 27.2 % para siswa yang mengalami LD berada pada taraf kecerdasan superior. Pada taraf very superior banyaknya siswa yang mencapai taraf intelegnsi ini adalah 16.7 %.

 

 

c. Hasil Penelitian di SDN Mojo IX

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Mojo IX  kelas IV, yaitu sebesar 42.3 %. Sedangkan pada kelas V dan VI masing – masing sebesar 28.6 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 12-13 tahun menunjukkan prosentase yang paling rendah, yaitu 21.4 %, sedangkan pada rentang usia 8-9 tahun adalah 32.14 % dan yang paling besar pada usia 10-11 tahun sebesar 72.22 %. Berdasarkan jenis kelamin, siswa perempuan menunjukkan jumlah yang lebih besar dibandingkan siswa laki-laki yang mengalami LD dengan perbandingan 64.28 % : 35.72 %.

d. Hasil Penelitian di SDN Mojo X

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Mojo X adalah kelas V, yaitu sebesar 58.8 % Sedangkan pada kelas IV sebesar 17.64 % dan kelas VI sebesar 23.53 %. Tidak ada siswa berusia antara 8-9 yang mengalami gangguan disleksia, disgrafia atau diskalkulia. 64.70 % dari siswa yang mengalami LD berada pada usia 10-11 tahun, sekitar 35.29 % sisanya adalah siswa yang berusia 12-13 tahun. 58.82 % siswa yang mengamai LD di SDN Mojo X berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebesar 41.18 %. Berturut-turut prosentase siswa yang mengalami LD dari taraf Average hingga very superior adalah 41.18 %, 17.64 %, 29.41 % dan 11.76 %.

e. Hasil Penelitian di SDN Gubeng III

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Gubeng III adalah kelas IV, yaitu sebesar 50 %. Sedangkan pada kelas V sebesar 37.5 % dan kelas IV sebesar 12.5 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 8-9 tahun menunjukkan prosentase yang paling tinggi, yaitu 43.75 %, sedangkan pada rentang usia 10-11 tahun adalah 31.25 % dan pada usia 12-13 tahun sebesar 25 %. Terdapat perbedaan yang cukup besar antara jumlah siswa laki-laki dan siswa perempuan yang menunjukkan adanya gangguan kesulitan belajar. Dominansi siswa laki-laki ditunjukkan dalam prosentase 75 % sedangkan siswa perempuan prosentasenya hanya 25 %. Berdasarkan taraf intelegensinya, tidak ada siwa yang mengamai LD memiliki taraf intelegensi high average. 37.5 % berada pada taraf average dan masing-masing 31.25 % berada pada taraf superior dan very superior.

G. Pembahasan Hasil Identifikasi

Model Intervensi yang dirancang berdasarkan hasil identifikasi

 

Hasil identifikasi untuk mengetahui siswa yang mengalami LD, didapatkan bahwa prosentase siswa yang mengalami disgrafia sebesar 84.38 %, disleksia sebesar 78.5 % dan diskalkulia sebesar 38.6 %. Sesudah diperoleh hasil identifikasi gangguan kesulitan belajar, maka diperlukan suatu intervensi untuk menanganninya. Model intervensi yang dirancang adalah Program Pendidikan Individual Individal Education Program/IEP) yang terintegrasi dalam kegiatan belajar siswa

Metode IEP terinterasi dengan kegiatan belajar, memuat serangkaian strategi yang difasilitasi oleh guru. Dalam penelitian ini strategi-strategi metode IEP yang digunakan merujuk pada strategi penanganan LD.

  1. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
    1. 1. Metode multisensori

Metode ini menggunakan beberapa alat indera untuk memperkuat proses belajar, sebagaimana digambarkan dalam singkatan VAKT (visual, auditori, kinestetik dan taktil/peraba).

  1. 2. Metode Orton-Gillingham

Metode ini menfokuskan pada siswa untuk mempelajari bunyi huruf tunggal dan perpaduan (blending) huruf-huruf tersebut

  1. 3. Metode Fernald

Metode ini terdiri dari empat tahap,

Tahap 1. Siswa diminta memilih satu kata untuk dipelajari. Guru menuliskan kata pada sehelai kertas dengan krayon. Siswa kemudian menelusuri kata tersebut dengan tangannya, membuat kontak dengan kertas, sehingga menggunakan indera peraba dan kinestetik. Saat siswa menelusurinya, guru menyebutkan kata sehingga siswa mendengarnya (menggunakan indera pendengaran). Proses ini diulang hingga siswa dapat menulis huruf dengan benar tanpa melihat contoh. Sekali siswa mempelajari kata, contoh diletakkan dalam sebuah kotak arsip. Kata-kata tersebut terhimpun dalam kotak hingga terdapat kata-kata yang cukup bagi siswa untuk menulis suatu cerita. Cerita ini lalu diketik sehingga siswa dapat membaca cerita buatannya sendiri. Tahap 2. Siswa tidak lagi diharuskan menelusuri setiap kata melainkan mempelajari kata-kata baru dengan melihat gurunya menulis sebuah kata dan membunyikan kata tersebut saat menulis.

Tahap 3. Siswa mempelajari kata-kata baru dengan melihat pada suatu kata yang tertulis dan menyebutkannya berulang-ulang pada dirinya sendiri sebelum menulis. Pada titik ini, siswa dapat mulai membaca buku.

Tahap 4. Siswa dapat mengenali kata-kata baru dari kemiripannya dengan kata atau bagian kata yang tertulis yang telah dipelajari. Sekarang siswa dapat menggeneralisasikan pengetahuan yang telah diperolehnya melalui keterampilan membaca

b. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)

1. Model Ekspresi Tertulis

2. Model intervensi dalam hal meningkatkan kemampuan mengeja (spelling)

3. Model intervensi dalam hal menulis dengan tangan (handwriting)

c. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Berhitung Matematika (Diskalkulia)

Strategi yang dapat dilakukan guru untuk menangani siswa dengan gangguan diskalkulia:

(1). Guru mengajarkan prasyarat belajar matematika

(2). Guru mengajarkan konsep konkrit sebelum konsep abstrak

(3). Guru memberikan kesempatan untuk berlatih dan mengulang Teknik yang dapat  digunakan antara lain lembar kerja, permainan, teknik manajemen perilaku (seperti memberikan reward bila tugas telah diselesaikan)

(4). Guru mengajari siswa untuk melakukan generalisasi pada situasi baru. Siswa perlu belajar menggeneralisasikan suatu keterampilan pada banyak situasi

(5). Guru mengajarkan kosakata matematis

Siswa perlu mempelajari kosakata dan konsep matematika. Siswa dapat mengetahui operasinya tapi belum tentu mengetahui istilah yang tepat untuk operasi tersebut, misalnya penambah, pengali, pembagi, hasil.

(6) Guru mengijinkan penggunaan jari dan menghitung di kertas

(7) Guru menggunakan diagram dan menggambar konsep-konsep matematika

(8) Guru memberikan pendampingan teman yang lebih mampu dalam berhitung

(9) Guru menyarankan penggunaan kertas bekas

(10) Guru menyarankan penggunaan pensil berwarna untuk membedakan berbagai  permasalahan

(11) Guru meminta siswa bekerja secara manipulatif

(12) Guru membuat gambar-gambar dari soal yang berupa kalimat sehingga mudah dipahami siswa

(13) Guru mengajarkan metode mnemonic untuk mempelajari langkah-langkah suatu

konsep matematika

14) Guru menggunakan ritme dan musik untuk mengajarkan fakta-fakta matematika

dan merangkaikan langkah-langkah menjadi suatu irama

(15) Apabila memungkinkan, guru menjadualkan waktu belajar dengan komputer

bagi siswa untuk mengingat dan berlatih

H.  Simpulan Dan Saran

  1. Simpulan Hasil Identifikasi

Berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa dari 510 subyek penelitian, sebanyak 112 siswa (19.8 %) teridentifikasi mengalami LD baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi disleksia, disgrafia, dan atau diskalkulia. Sebaran siswa yang mengalami gangguan kesulitan belajar bervariasi di masing sekolah tempat penelitian, rentangnya berkisar antara (16 % – 39.3%). Berdasarkan usia, siswa yang mengalami LD 48.2 % berada pada rentang usia 10-11 tahun, 23.2% berada pada rentang usia 12-13 tahun, dan 18.6 % berada pada rentang usia 8-9 tahun. Siswa dengan jenis kelamin laki-laki menunjukkan jumlah yang lebih banyak mengalami LD dibanding jenis kelamin perempuan (53.6 % : 46.4 %). Sebaran taraf intelegensi siswa yang mengalami LD adalah 49 anak (43.75 %) berada pada level average, 21 anak (18.75 %) berada pada level high average, 26 anak (23.21 %) berada pada level superior dan 17 anak (15.18 %) berada pada level very superior

Subyek penelitian memerlihakan perilaku disleksia dalam bentuk perilaku membaca secara terbata-bata, penghilangan kata atau suku kata, penggantian kata atau suku kata, penambahan kata atau suku kata, pembetulan sendiri, ragu-ragu, membaca dalam cara yang tidak lazim, pertukaran huruf, penghilangan kata/huruf, penyelipan kata, penambahan huruf, menunjuk setiap kata yang hendak dibaca, membaca tanpa ekspresi, melompati kata, kalimat atau baris, kurang memperhatikan tanda baca, salah memenggal suku kata, kesalahan dalam mengeja, nada suara yang aneh tampak tegang, pengucapan salah dan tidak bermakna, pengucapan kata dengan bantuan guru, pengulangan, menggerakkan kepala bukan matanya yang bergerak.

Disgrafia yang teridentifikasi daam penelitian ini adalah : kurangnya keindahan tulisan (tiadanya jarak antar kalimat dan jarak tiap kata/huruf, bentuk huruf, kemiringan huruf, tekanan pada kertas serta cara memegang pensil), kesulitan mengeja (pengurangan huruf, mencerminkan dialek, pembalikan huruf dalam kata, pembalikan konsonan atau vokal, pembalikan suku kata, penambahan huruf), kesalahan memenggal suku kata, tanpa memperhatikan huruf besar dan kecil. Diskalkulia yang teridentifikasi diperlihatkan dalam bentuk : Kekurangan pemahaman tentang (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, (5) tulisan yang tidak terbaca.

Para siswa yang teridentifikasi mengalami LD tercatat memiliki capaian pretasi yang tergolong rendah di kelasnya. Di dalam kegiatan belajar di kelas mereka seringkali tertinggal. Peran guru kurang banyak membantu karena guru hanya memberi tekanan agar siswa mengejar ketertinggalannya. Para siswa tersebut diangap bodoh, malas atau memiliki kapasitas intelektualnya terbatas. Pada akhirnya yang terjadi adalah mereka kurang mendapatkan dukungan untuk mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Pola kegiatan belajar yang kurang kondusif tersebut terakumulasi sejak jenjang kelas-kelas sebelumnya, selain itu hal ini juga disertai oleh keterlambatan kematangan sosial.

Status sosial ekonomi juga berpengaruh tehadap kondisi LD. Para siswa yang berasal dari status menengah kebawah cenderung lebih banyak mengalami LD. Faktor biologis yang bersifat genetis dan faktor lingkungan menentukan kondisi fisiologis pada perkembangan otak. Sebagaimana diketahui LD merupakan katagori gangguan Disfungsi Minimal Otak.

  1. Simpulan Model Intervensi untuk Menangani Gangguan Kesulitan Belajar

Berdasarkan hasil identifikasi gangguan kesulitan beajar siswa, maka dapat ditarik suatu kesimpulan tentang Model Intervensi yang dapat digunakan dalam menangani siswa berkesulitan belajar di kelas menggunakan Program Pendidikan Individual (Individual Education Program/IEP) yang terintegrasi dan sesuai dengan kondisi gangguannya. Adapun intervensi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1) Menangani Disleksia :

i. Metode Multisensori

ii. Metode Orton-Gillingham

iii. Metode Fernald

2) Menangani Disgrafia

i. Model Ekspresi Tertulis

ii. Model intervensi dalam hal meningkatkan kemampuan mengeja (spelling)

iii. Model intervensi dalam hal menulis dengan tangan (handwriting)

3) Menangani Diskalkulia

Metode IEP yang digunakan menekankan pada oprasonalisasi konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkrit. Guru memfasilitasi strategi yang digunakan dalam IEP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: