SENANDUNG ILIR-ILIR dalam bahasa Psikologi Positif

Lir –ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar

  • Bayi yang baru lahir di dalam dunia masih suci, bersih, murni sehingga ibarat seperti penganten baru siapa saja ingin memandangnya

Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu peneken, kanggo mbasuh dodot-iro

  • Cah angon adalah manusia yang dalam proses “kemenjadian” yang terdiri dari badan, jdan ruh yang mengalami ‘pertumbuhan’ dan perkembangan kualitas, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan seorang manusia.
  • Jiwa adalah ‘sesuatu’ di dalam diri kita yang memiliki kemampuan untuk memilih, yang harus bertanggung jawab (meski sesulit apapun) terhadap pilihan-pilihan yang dia lakukan
  • Kehidupan laksana perjalanan untuk menemukan pengetahuan diri yang dimulai dengan kesadaran fisik materi (saat kelahiran), berkembang menjadi kesadaran emosional, mental, dan intelektual. Dan puncaknya (terjadi saat mencapai kedewasaan) yakni kesadaran spiritual tinggi (inilah kelima kesadaran lingir belimbing)

Dodot-iro, dodot-iro, kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore

  • Saat manusia dilanda kemerosotan moral (dodot-iro kumitir, bedahing pinggir), saatnya dicegah atau dihadapi dengan membangun kekuatan dan kebajikan sebagai bekal penyempurnaan diri manusia dan kembali padaNya.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane

  • Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan perbaikilah kualitas hidupmu

Ya suraka, surak hiya

  • Disaat nanti datang panggilanNya, bagi yang berhasil menyelesaikan proses “kemenjadian” akan menyambut dengan gembira, bahagia (bersorak IYA !)

Lanjutkan membaca

Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar

Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar

pada Siswa Sekolah Dasar di Surabaya

A. Latar Belakang

Gangguan kesulitan belajar (learning disabilities/ LD) merupakan salah satu permasalahan yang banyak ditemui dalam dunia pendidikan. LD menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas (Yusuf, M, 2003). Penelitian sebelumnya oleh Balitbang Dikbud dengan menggunakan instrumen khusus dalam peneitian di empat provinsi pada 1996 dan dilaporkan 1997, menemukan bahwa terdapat sekitar 10 % anak mengalami kecsulitan belajar menulis, 9 % mengalami kesulitan belajar membaca, dan lebih dari 8 % mengalami kesulitan berhitung. Di samping itu, diketahui pula bahwa 22 % anak berkesulitan belajar mempunyai intelegensi tinggi, 25 % sedang dan 52 % kurang. Sejalan dengan hasil penemuan tersebut, dari hasil doagnosis terhadap 659 pasien berkesulitan belajar di RS dr. Karyadin Semarang dalam kurun wakru 1991, ditemukan 26.3 % mengalami ganguan pemusatan perhatian plus Disfungsi Minimal Otak (DMO) lain, 18.6 % mengalami disfasia (gangguan bahasa), disleksia (gangguan membaca) dan diskalkulia (gangguan berhiung) (Hartono, 1991 dalam Yusuf, M, 2003). Menurut Hallahan et al (dalam Abdurahman, M, 1999) jumlah anak berkesulitan belajar meningkat secara dramatis. Dari pemaparan diatas jelas terlihat bahwa LD merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siswa, dengan prevalensi yang cenderung meningkat. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya kemampuan siswa dalam menguasai tujuan belajar yang harus dicapainya, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajarnya. Sebagai akibatnya adalah adanya kendala dalam kelancaran proses belajar. Banyak siswa yang mengulang disebabkan karena mereka mengalami LD secara akademis.

Sehubungan dengan jumlah siswa yang mengulang, potret pendidikan di kota Surabaya tahun 2004/2005, khususnya pada pendidikan dasar terlihat jumlah murid SDN (Sekolah Dasar Negeri)/Swasta yang mengulang sebanyak 4.0954 dari total 231.377. Implikasi dari fenomena ini menjadi amat menarik karena bertentangan dengan kebijakan pemerataan kesempatan pendidikan. Dengan kata lain adanya murid yang mengulang menjadikan bangku yang seharusnya dapat ditempati oleh siswa baru atau murid yang naik kelas menjadi terbatasi. Hal ini tentunya mempengaruhi tingkat efisiensi pendidikan (Sumber : Data dari Dinas P dan K Kota Surabaya, 2005). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permasalahan LD berdampak pada prestasi akademik siswa secara khusus dan secara secara umum berdampak pada kurangnya efisiensi dan efektivitas pendidikan.

Berkait dengan permasalahan diatas, diperlukan penanganan yang tepat sebagai bentuk intervensi LD. Agar dapat melakukan penanganan secara tepat, harus didahului oleh identifikasi yang tepat pula. Oleh karena itu diperlukan penelitian yang dapat mengindentifikasi LD secara tepat sehingga dapat disusun model intervensi yang tepat pula.

B. Tujuan

1. Mengidentifikasi bentuk-bentuk gangguan kesulitan belajar (LD) dalam jenis gangguan belajar membaca, menulis dan matematika/berhitung.

2. Mendapatkan model intervensi yang dapat digunakan dalam menangani siswa berkesulitan belajar di kelas

C. Metode

Tipe penelitian adalah deskriptif eksplanatif, dimana penelitian ini berupaya untuk mendapatkan gambaran secara rinci dan komprehensif dalam mengidentifikasi gangguan kesulitan belajar pada siswa SD yang mengalami permasalahan akademis dalam bentuk gangguan kesulitan belajar serta menjelaskan model intervensi yang dapat digunakan untuk menanganinya. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa SD yang berasal dari 5 SDN di Surabaya. Jumlah keseluruhan populasi adalah 1023 anak dari kelas I hingga VI dari seluruh sekolah yang digunakan sebagai tempat penelitian

 

D. Subjek penelitian :

Penentuan sample menggunakan purposif yaitu kelas IV, V dan VI yang mengalami hambatan belajar dan berprestasi rendah. Penentuan pada kelas IV, V dan VI didasari pemahaman bahwa kategori kesulitan belajar akademik biasanya tidak terdiagnosa hingga anak berada di kelas tiga atau setelahnya (Graziano, 2002)

E. Teknik pengambilan data

Teknik – teknik yang digunakan untuk menggali data dalam penelitian ini adalah : Observasi, Wawancara, Tes Formal dan Tes Informal.

F. Hasil penelitian

1. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa dari 510 siswa kelas IV, V dan VI yang berasal dari lima SDN di Surabaya, yaitu Mulyorejo II, Kertajaya I, Mojo IX, Mojo X dan Gubeng III, sebanyak 112 orang mengalami gangguan kesulitan belajar baik dalam katagori disleksia, disgrafia dan atau diskalkulia. Dengan kata lain, dari seluru siswa kelas IV, V dan VI pada kelima SDN tersebut, jumlah siswa yang mengalami LD sebesar 19.8 %. Berdasarkan jenjang kelas, ditemukan bahwa secara keseluruhan jumlah siswa yang mengalami LD paling banyak terdapat di kelas lima. Secara umum siswa yang mengalami LD paling banyak berada pada rentang usia 10-11 tahun. Berdasarkan data, siswa yang mengami LD lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dibanding perempuan, meskipun selisihnya tidak terlalu besar. Meskipun demikian pada SDN Mojo IX proporsi siswa perempuan yang mengalami LD lebih besar dibanding siswa laki-laki. Sebaran taraf intelegensi siswa yang mengalami LD menunjukkan bahwa : 49 anak (43.75 %) berada pada level average, 21 anak (18.75 %) berada pada level high average, 26 anak (23.21 %) berada pada level superior dan 17 anak (15.18 %) berada pada level very superior. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa yang mengalami LD pada dasarnya memiliki potensi intelektual yang cukup bagus, hanya saja pada ketrampilan akademik tertentu ia menunjukkan keterbatasan

 

 

 

 

 

 

2. Hasil Penelitian tentang Identifikasi Disleksia, Disgrafia dan Diskalkulia pada Subyek

Penelitian

  1. Disleksia

Berdasarkan hasil temuan dilapangan, bentuk-bentuk perilaku yang ditunjukkan oleh subyek penelitian sebagai karakteristik siswa yang mengalami dari LD disleksia adalah :

1. Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca

2. Menelusuri tiap baris yang sedang dibaca dari kiri kanan dengan jari

3. Menelusuri tiap baris bacaan ke bawah dengan jari

4. Menggerakkan kepala, bukan matanya yang bergerak

5. Menempatkan buku dengan cara yang aneh

6. Menempatkan buku terlalu dekat dengan mata

7. Sering melihat pada gambar jika ada

8. Mulutnya komat kamit waktu mermbaca

9. Membaca kata demi kata

10. Membaca terlalu cepat

11. Membaca tanpa ekspresi

12. Melakukan analisis tetapi tidak mensintesiskan

13. Adanya nada suara yang aneh atau tegang yang menandakan adanya keputusasaan

14. Membaca terbata-bata

15. Membaca dengan bantuan guru

16. Membaca tanpa memperhatikan tanda baca

 

 

 

b. Disgrafia

Berdasarkan temuan di lapangan, perilaku-perilaku subyek penelitian yang mengindikasikan karakteristik LD disgrafia adalah sebagai berikut :

1. Menulis dengan buruk (tiadanya jarak antar kalimat dan jarak tiap kata/huruf, bentuk huruf, kemiringan huruf, tekanan pada kertas serta cara memegang pensil),

2. Mengalami kesulitan mengeja (pengurangan huruf, mencerminkan dialek, pembalikan huruf dalam kata, pembalikan konsonan atau vokal, pembalikan suku kata, penambahan huruf),

3. Menunjukkan kesalahan memenggal suku kata

4. Kurang memperhatikan huruf besar dan kecil serta tanda baca

c. Diskalkulia

Berdasarkan hasil temuan dilapangan, perilaku-perilaku yang ditunjukkan subyek penelitian sebagai karakteristik LD diskalkulia adalah : Kekurangan pemahaman tentang (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, (5) tulisan yang tidak terbaca

3. Hasil Identifikasi Kematangan Sosial siswa yang mengalami Gangguan Kesulitan Belajar.

Berdasarkan pengukuran menggunakan VSMS dan tes kepribadian yang diungkap melalui tes proyektif BAUM-DAM, para siswa yang teridentifikasi mengalami LD menunjukkan karakteristik :

1). Kurang matang

2). Motivasi rendah

3). Penyesuaian sosial kurang memadai

4). Toleransi terhadap stress rendah

 

 

 

4. Rincian Hasil Penelitian di setiap SDN yang menjadi Lokasi penelitian

a. Hasil Penelitian di SDN Mulyorejo II

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Mulyorejo adalah kelas V, yaitu sebesar 45,45 %. Sedangkan pada kelas IV sebesar 27.27 % dan kelas VI sebesar 27.27 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 8-9 tahun menunjukkan prosentase yang paling rendah, yaitu 18.18 %, sedangkan pada rentang usia 10-11 tahun adalah 54.54 % dan pada usia 12-13 tahun sebesar 27.27 %. Jenis kelamin siswa laki-laki yang mengalami LD sebesar 48.48 % sedangkan siswa perempuan sebesar 52.52 %. Selisih antara siswa laki-laki dan perempuan tidak besar, dengan kata lain tidak ada perbedaan yang berarti berdasarkan jenis kelamin. 42,42 % siswa yang mengalami LD memiliki intelegensi yang tergolong average/rata-rata. Sedangkan pada taraf very superior sebesar 6 %. Siswa yang taraf intelegensinya tergolong high average sebesar 36.36 % dan siswa yang tergolong superior memiliki prosorsi sebanyak 12.12 %.

b.Hasil Penelitian di SDN Kertajaya I

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Kertajaya I adalah kelas V, yaitu sebesar 66.67 %. Sedangkan pada kelas IV sebesar 11.11 % dan kelas VI sebesar 22.22 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 8-9 tahun menunjukkan prosentase yang paling rendah, yaitu 0 %, sedangkan pada rentang usia 10-11 tahun adalah 83.33 % dan pada usia 12-13 tahun sebesar 16.67 %. Berdasarkan jenis kelamin, siswa yang mengalami LD di SDN Kertajaya I sebanyak 75 % adalah siswa laki-laki. Sedangkan siswa perempuan hanya 25 %. Sebaran taraf intelegensi siswa yang mengalami LD, terbesar pada taraf average yaitu 50 %. Sedangkan pada taraf high average prosentasenya hanya 5.6 % dan merupakan prosentase terendah. Sebanyak 27.2 % para siswa yang mengalami LD berada pada taraf kecerdasan superior. Pada taraf very superior banyaknya siswa yang mencapai taraf intelegnsi ini adalah 16.7 %.

 

 

c. Hasil Penelitian di SDN Mojo IX

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Mojo IX  kelas IV, yaitu sebesar 42.3 %. Sedangkan pada kelas V dan VI masing – masing sebesar 28.6 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 12-13 tahun menunjukkan prosentase yang paling rendah, yaitu 21.4 %, sedangkan pada rentang usia 8-9 tahun adalah 32.14 % dan yang paling besar pada usia 10-11 tahun sebesar 72.22 %. Berdasarkan jenis kelamin, siswa perempuan menunjukkan jumlah yang lebih besar dibandingkan siswa laki-laki yang mengalami LD dengan perbandingan 64.28 % : 35.72 %.

d. Hasil Penelitian di SDN Mojo X

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Mojo X adalah kelas V, yaitu sebesar 58.8 % Sedangkan pada kelas IV sebesar 17.64 % dan kelas VI sebesar 23.53 %. Tidak ada siswa berusia antara 8-9 yang mengalami gangguan disleksia, disgrafia atau diskalkulia. 64.70 % dari siswa yang mengalami LD berada pada usia 10-11 tahun, sekitar 35.29 % sisanya adalah siswa yang berusia 12-13 tahun. 58.82 % siswa yang mengamai LD di SDN Mojo X berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebesar 41.18 %. Berturut-turut prosentase siswa yang mengalami LD dari taraf Average hingga very superior adalah 41.18 %, 17.64 %, 29.41 % dan 11.76 %.

e. Hasil Penelitian di SDN Gubeng III

Prosentase tertinggi jumlah siswa kelas IV, V dan VI yang mengalami LD di SDN Gubeng III adalah kelas IV, yaitu sebesar 50 %. Sedangkan pada kelas V sebesar 37.5 % dan kelas IV sebesar 12.5 %. Katagori siswa yang mengalami LD berusia 8-9 tahun menunjukkan prosentase yang paling tinggi, yaitu 43.75 %, sedangkan pada rentang usia 10-11 tahun adalah 31.25 % dan pada usia 12-13 tahun sebesar 25 %. Terdapat perbedaan yang cukup besar antara jumlah siswa laki-laki dan siswa perempuan yang menunjukkan adanya gangguan kesulitan belajar. Dominansi siswa laki-laki ditunjukkan dalam prosentase 75 % sedangkan siswa perempuan prosentasenya hanya 25 %. Berdasarkan taraf intelegensinya, tidak ada siwa yang mengamai LD memiliki taraf intelegensi high average. 37.5 % berada pada taraf average dan masing-masing 31.25 % berada pada taraf superior dan very superior.

G. Pembahasan Hasil Identifikasi

Model Intervensi yang dirancang berdasarkan hasil identifikasi

 

Hasil identifikasi untuk mengetahui siswa yang mengalami LD, didapatkan bahwa prosentase siswa yang mengalami disgrafia sebesar 84.38 %, disleksia sebesar 78.5 % dan diskalkulia sebesar 38.6 %. Sesudah diperoleh hasil identifikasi gangguan kesulitan belajar, maka diperlukan suatu intervensi untuk menanganninya. Model intervensi yang dirancang adalah Program Pendidikan Individual Individal Education Program/IEP) yang terintegrasi dalam kegiatan belajar siswa

Metode IEP terinterasi dengan kegiatan belajar, memuat serangkaian strategi yang difasilitasi oleh guru. Dalam penelitian ini strategi-strategi metode IEP yang digunakan merujuk pada strategi penanganan LD.

  1. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
    1. 1. Metode multisensori

Metode ini menggunakan beberapa alat indera untuk memperkuat proses belajar, sebagaimana digambarkan dalam singkatan VAKT (visual, auditori, kinestetik dan taktil/peraba).

  1. 2. Metode Orton-Gillingham

Metode ini menfokuskan pada siswa untuk mempelajari bunyi huruf tunggal dan perpaduan (blending) huruf-huruf tersebut

  1. 3. Metode Fernald

Metode ini terdiri dari empat tahap,

Tahap 1. Siswa diminta memilih satu kata untuk dipelajari. Guru menuliskan kata pada sehelai kertas dengan krayon. Siswa kemudian menelusuri kata tersebut dengan tangannya, membuat kontak dengan kertas, sehingga menggunakan indera peraba dan kinestetik. Saat siswa menelusurinya, guru menyebutkan kata sehingga siswa mendengarnya (menggunakan indera pendengaran). Proses ini diulang hingga siswa dapat menulis huruf dengan benar tanpa melihat contoh. Sekali siswa mempelajari kata, contoh diletakkan dalam sebuah kotak arsip. Kata-kata tersebut terhimpun dalam kotak hingga terdapat kata-kata yang cukup bagi siswa untuk menulis suatu cerita. Cerita ini lalu diketik sehingga siswa dapat membaca cerita buatannya sendiri. Tahap 2. Siswa tidak lagi diharuskan menelusuri setiap kata melainkan mempelajari kata-kata baru dengan melihat gurunya menulis sebuah kata dan membunyikan kata tersebut saat menulis.

Tahap 3. Siswa mempelajari kata-kata baru dengan melihat pada suatu kata yang tertulis dan menyebutkannya berulang-ulang pada dirinya sendiri sebelum menulis. Pada titik ini, siswa dapat mulai membaca buku.

Tahap 4. Siswa dapat mengenali kata-kata baru dari kemiripannya dengan kata atau bagian kata yang tertulis yang telah dipelajari. Sekarang siswa dapat menggeneralisasikan pengetahuan yang telah diperolehnya melalui keterampilan membaca

b. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)

1. Model Ekspresi Tertulis

2. Model intervensi dalam hal meningkatkan kemampuan mengeja (spelling)

3. Model intervensi dalam hal menulis dengan tangan (handwriting)

c. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Berhitung Matematika (Diskalkulia)

Strategi yang dapat dilakukan guru untuk menangani siswa dengan gangguan diskalkulia:

(1). Guru mengajarkan prasyarat belajar matematika

(2). Guru mengajarkan konsep konkrit sebelum konsep abstrak

(3). Guru memberikan kesempatan untuk berlatih dan mengulang Teknik yang dapat  digunakan antara lain lembar kerja, permainan, teknik manajemen perilaku (seperti memberikan reward bila tugas telah diselesaikan)

(4). Guru mengajari siswa untuk melakukan generalisasi pada situasi baru. Siswa perlu belajar menggeneralisasikan suatu keterampilan pada banyak situasi

(5). Guru mengajarkan kosakata matematis

Siswa perlu mempelajari kosakata dan konsep matematika. Siswa dapat mengetahui operasinya tapi belum tentu mengetahui istilah yang tepat untuk operasi tersebut, misalnya penambah, pengali, pembagi, hasil.

(6) Guru mengijinkan penggunaan jari dan menghitung di kertas

(7) Guru menggunakan diagram dan menggambar konsep-konsep matematika

(8) Guru memberikan pendampingan teman yang lebih mampu dalam berhitung

(9) Guru menyarankan penggunaan kertas bekas

(10) Guru menyarankan penggunaan pensil berwarna untuk membedakan berbagai  permasalahan

(11) Guru meminta siswa bekerja secara manipulatif

(12) Guru membuat gambar-gambar dari soal yang berupa kalimat sehingga mudah dipahami siswa

(13) Guru mengajarkan metode mnemonic untuk mempelajari langkah-langkah suatu

konsep matematika

14) Guru menggunakan ritme dan musik untuk mengajarkan fakta-fakta matematika

dan merangkaikan langkah-langkah menjadi suatu irama

(15) Apabila memungkinkan, guru menjadualkan waktu belajar dengan komputer

bagi siswa untuk mengingat dan berlatih

H.  Simpulan Dan Saran

  1. Simpulan Hasil Identifikasi

Berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa dari 510 subyek penelitian, sebanyak 112 siswa (19.8 %) teridentifikasi mengalami LD baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi disleksia, disgrafia, dan atau diskalkulia. Sebaran siswa yang mengalami gangguan kesulitan belajar bervariasi di masing sekolah tempat penelitian, rentangnya berkisar antara (16 % – 39.3%). Berdasarkan usia, siswa yang mengalami LD 48.2 % berada pada rentang usia 10-11 tahun, 23.2% berada pada rentang usia 12-13 tahun, dan 18.6 % berada pada rentang usia 8-9 tahun. Siswa dengan jenis kelamin laki-laki menunjukkan jumlah yang lebih banyak mengalami LD dibanding jenis kelamin perempuan (53.6 % : 46.4 %). Sebaran taraf intelegensi siswa yang mengalami LD adalah 49 anak (43.75 %) berada pada level average, 21 anak (18.75 %) berada pada level high average, 26 anak (23.21 %) berada pada level superior dan 17 anak (15.18 %) berada pada level very superior

Subyek penelitian memerlihakan perilaku disleksia dalam bentuk perilaku membaca secara terbata-bata, penghilangan kata atau suku kata, penggantian kata atau suku kata, penambahan kata atau suku kata, pembetulan sendiri, ragu-ragu, membaca dalam cara yang tidak lazim, pertukaran huruf, penghilangan kata/huruf, penyelipan kata, penambahan huruf, menunjuk setiap kata yang hendak dibaca, membaca tanpa ekspresi, melompati kata, kalimat atau baris, kurang memperhatikan tanda baca, salah memenggal suku kata, kesalahan dalam mengeja, nada suara yang aneh tampak tegang, pengucapan salah dan tidak bermakna, pengucapan kata dengan bantuan guru, pengulangan, menggerakkan kepala bukan matanya yang bergerak.

Disgrafia yang teridentifikasi daam penelitian ini adalah : kurangnya keindahan tulisan (tiadanya jarak antar kalimat dan jarak tiap kata/huruf, bentuk huruf, kemiringan huruf, tekanan pada kertas serta cara memegang pensil), kesulitan mengeja (pengurangan huruf, mencerminkan dialek, pembalikan huruf dalam kata, pembalikan konsonan atau vokal, pembalikan suku kata, penambahan huruf), kesalahan memenggal suku kata, tanpa memperhatikan huruf besar dan kecil. Diskalkulia yang teridentifikasi diperlihatkan dalam bentuk : Kekurangan pemahaman tentang (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, (5) tulisan yang tidak terbaca.

Para siswa yang teridentifikasi mengalami LD tercatat memiliki capaian pretasi yang tergolong rendah di kelasnya. Di dalam kegiatan belajar di kelas mereka seringkali tertinggal. Peran guru kurang banyak membantu karena guru hanya memberi tekanan agar siswa mengejar ketertinggalannya. Para siswa tersebut diangap bodoh, malas atau memiliki kapasitas intelektualnya terbatas. Pada akhirnya yang terjadi adalah mereka kurang mendapatkan dukungan untuk mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Pola kegiatan belajar yang kurang kondusif tersebut terakumulasi sejak jenjang kelas-kelas sebelumnya, selain itu hal ini juga disertai oleh keterlambatan kematangan sosial.

Status sosial ekonomi juga berpengaruh tehadap kondisi LD. Para siswa yang berasal dari status menengah kebawah cenderung lebih banyak mengalami LD. Faktor biologis yang bersifat genetis dan faktor lingkungan menentukan kondisi fisiologis pada perkembangan otak. Sebagaimana diketahui LD merupakan katagori gangguan Disfungsi Minimal Otak.

  1. Simpulan Model Intervensi untuk Menangani Gangguan Kesulitan Belajar

Berdasarkan hasil identifikasi gangguan kesulitan beajar siswa, maka dapat ditarik suatu kesimpulan tentang Model Intervensi yang dapat digunakan dalam menangani siswa berkesulitan belajar di kelas menggunakan Program Pendidikan Individual (Individual Education Program/IEP) yang terintegrasi dan sesuai dengan kondisi gangguannya. Adapun intervensi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1) Menangani Disleksia :

i. Metode Multisensori

ii. Metode Orton-Gillingham

iii. Metode Fernald

2) Menangani Disgrafia

i. Model Ekspresi Tertulis

ii. Model intervensi dalam hal meningkatkan kemampuan mengeja (spelling)

iii. Model intervensi dalam hal menulis dengan tangan (handwriting)

3) Menangani Diskalkulia

Metode IEP yang digunakan menekankan pada oprasonalisasi konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkrit. Guru memfasilitasi strategi yang digunakan dalam IEP

BUKTI KEBENARAN AL QURAN TERNYATA LANGIT MELUAS

BUKTI KEBENARAN AL QURAN TERNYATA LANGIT MELUAS

Di dalam film ini Alam semesta di dunia ini ternyata tidaklah statis tetapi mengembang. Mengembangnya alam semesta dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

Kata “langit”, sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur’an dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”. Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta. Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasa nya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Qur’an, 21:30)

Kata “ratq” yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini. Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat “fatq”. Keduanya lalu terpisah (“fataqa”) satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk. Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20. Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. Di dalam Al quran yang telah telah disampaikan dahulu fakta-fakta bahwa telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana. Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya. Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan. Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur’an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa “dipenuhi lintasan dan garis edar” sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur’an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur’an adalah firman Allah.

 

EFEK FILM KARTUN BAGI PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS MANUSIA

EFEK FILM KARTUN BAGI PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS MANUSIA

Dengan majunya perkembangan televisi di Indonesia saat ini mengakibatkan semakin maraknya acara – acara untuk di minati oleh para pemirsa, hal ini karenakan adanya persaingan yang terjadi antara stasiun yang satu dengan yang lainnya, dalam hal untuk mendapatkan pemirsa sebanyak – banyak nya. Salah satu tayangan atau acara yang banyak menjadi pilihan stasiun televise adalah acara film kartun. Banyak sekali stasiun televisi yang menayangkan film kartun untuk menarik perhatian audiencenya, film kartun pada umumnya berdasarkan cerita – cerita fantasi sehingga anak – anak , para remaja, hingga orang dewasa menyukai film kartun sebab digunakan sebagai media untuk berfantasi dan berkhayal. Selain itu film kartun juga dapat digunakan sebagai wadah identifikasi dan pembentukan kepribadian dimana hal ini juga sangat memberi pengaruh besar dalam masyarakat. Tak dapat dipungkiri, televisi menjadi gudang informasi dan proses pembelajaran serta pembentuk pola pikir bagi masyarakat, dengan adanya proses penanaman nilai yang kontinu.Walaupun begitu, tayangan acara di televisi baik berupa film, berita atau video musik membawa pesan tertentu yang harus kita waspadai. sebagai media transfering televisi mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam membentuk opini serta perilaku publik. oleh sebab itu acara-acara yang disuguhkan hendaknya mempunyai mutu agar pola pikir yang terbentuk dimasyarakat adalah pola pikir yang positif.

Film kartun telah menjadi suatu fenomena besar saat ini, hal ini harus diakui bahwa peranya sangat besar dalam membentuk pola pikir,pengembangan wawasan dan pendapat umum disebabkan karena program siaran televisi (acara-acara film kartun) yang di sajikan semakin lama semakin menarik sehingga tidak mengherankan jika para penonton betah duduk lama – lama di depan pesawat TV.sehingga hal ini menimbulkan pertanyaan bagi kita , bila rata – rata setiap individu menonton televisi selama 4 sampai 5 jam dalam sehari,maka dapat kita bayangkan berapa besar pengaruh televisi ini masuk kedalam pribadi – pribadi individu sehingga cepat atau lambat akan membentuk suatu sikap dan perilaku serta kepribadian dan cara berfikir para penontonnya. Dimana dalam hal ini faktor daya khayal dalam psikoanalisa disebut dengan (id) juga menentukan pengaruhnya, dimana id merupakan aspek biologis dan merupakan sistem yang original di dalam sebuah kepribadian dan juga merupakan unsur yang mendukung kreatifitas. Dan daya khayal ( id ) sendiri sangatlah dominan dalam kehidupan individu, kodrat daya khayal (id ) pada umumnya bersumber pada keinginan serta merupakan kelanjutan dari hasrat dan kebutuhan tertentu yang ada pada diri setiap individu.  Akan tetapi untuk melindungi kita dari daya khayal ( id ) kita membutuhkan ego, dimana ego merupakan aspek psikologis dari pada suatu kepribadian dan timbul dikarenakan kebutuhan individu untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan ( Realitat ) dan dimana ego hanya mengenal dunia batin saja dan yang terakhir adalah super ego, dimana super ego merupakan aspek sosiologi pada kepribadian dan dapat pula di anggap sebagai aspek moral pada kepribadian.

Dalam tugas ini saya membahas fil kartun Doraemon yang pernah saya tonton dari waktu kecil hingga sekarang.   Film kartun Doraemon yang berasal dari Jepang digemari oleh pemirsa terutama anak-anak. Doraemon yang merupakan tokoh utama adalah kucing ajaib yang dikirim oleh anak keturunan Nobita di masa yang akan datang untuk membantu Nobita.

Dalam film ini ada berbaga tokoh dengan karakter masing-masing seperti yang disebutkan dibawah ini :

  1. Sifat para Tokoh Utama
  2. Nobita

Film Doraemon menceriterakan keinginan Nobita yang amat banyak. Ia ingin mewujudkan keinginannya dengan cara yang mudah. Iapun berangan-angan jika seandainya mempunyai sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai keinginannya tersebut. Hal ini terjadi karena Nobita sangat malas (pemalas), tidak mau bekerja keras dan ingin segala keinginan dan angan-angannya dapat terpenuhi dengan segera.

  1. Doraemon

Doraemon adalah robot kucing yang dikirim oleh cicit Nobita di masa yang akan datang untuk membantu Nobita. Daraemon mempunyai kantong ajaib. Kantong ajaib ini dapat mengeluarkan segala macam peralatan yang dapat memenuhi keinginan-keinginan Nobita yang seringkali tidak masuk akal. Doraemon mempunyai sifat mudah kasihan/tersentuh hatinya terutama kepada Nobita. Ia suka membantu kesulitan-kesulitan Nobita. Kadang-kadang doraemon menolong Nobita karena desakan Nobita atau karena keinginannya sendiri. Sering Doraemon memberi ingat agar Nobita berubah sifatnya. Akan tetapi Nobita tidak peduli. Meskipun nasehatnya sering tidak dipedulikan Doraemon tetap setia membantu Nobita. Doraemon sangat takut kepada tikus.

  1. Giant

Tokoh ini mencerminkan sifat yang selalu memaksakan kehendak. Ia sangat nakal dan selalu ingin menang sendiri. Ia merupakan tokoh yang tidak mau instropeksi. Contohnya meskipun suaranya jelek, ia tetap memaksa teman-temannya untuk mendengarkan nyanyiannya. Giant sangat takut kepada ibunya.

  1. Shizuka

Tokoh ini mencerminkan sifat yang ramah-tamah dan suka bergaul. Sifat keramahannya ditunjukkan ia suka dikunjungi teman-temannya dan selalu menyediakan cemilan untuk teman-temannya. Bahkan ia tidak segan-segan membuat kue sendiri meskipun tidak enak. Ia mudah bergaul dengan siapa saja seperti Giant, Suneo, Nobita, Doraemon dll.

  1. Suneo

Tokoh ini mencerminkan sifat licik, penjilat dan suka pamer. Ia suka menjilat kepada Giant dan suka memfitnah Nobita. Ia selalu melempar batu sembunyi tangan.

Kelima tokoh utama tersebut  saling bergaul, berinteraksi. Meskipun mereka mempunyai sifat yang amat berbeda tetapi mereka dapat bergaul satu dengan lainnya, terkadang saling menolong, mengejek, bertengkar, bekerja sama, saling menuduh dll. Pergaulan kelima tokoh utama ini menggambarkan masyarakat anak-anak sehari-hari.

 

B. Sifat Tokoh Pembantu

1. Ibu Giant

Sosok ibu yang mendidik anaknya dengan cara keras. Giant sering dipukul oleh ibunya jika melakukan kesalahan atau jika tidak mau memenuhi perintah ibunya.

2. Ibu Nobita

Sosok ibu yang cerewet dalam mendidik anaknya.

3. Ibu  Shizuka

Tokoh ini mencerminkan sosok ibu yang ramah dan mendidik anaknya dengan lembut.

4. Pak Guru

Sosok guru yang suka memperhatikan murid-muridnya meskipun murid-muridnya bandel. Ia mendidik muridnya disiplin, marah  dan menghukum jika muridnya melakukan kesalahan. Ia sosok guru yang amat mencintai anak didiknya. Ia secara rutin mengungjungi rumah anak didiknya untuk menjalin keakraban orang tua-murid-guru. Kebiasaan pak guru ini sebenarnya menggambarkan budaya guru-guru di Jepang dimana mereka secara reguler mengunjungi rumah-rumah anak didiknya. Selain itu, kebiasaan di Jepang para orangtua secara reguler diundang oleh sekolah untuk secara langsung melihat kegiatan anak-anak mereka di sekolah atau juga jika ada kegiatan khusus.

Jika menyimak film Doraemon maka dapat ditelaah beberapa ajaran yang dapat berpengaruh terhadap perilaku. Ada beberapa ajaran positif yang dapat mempengaruhi perilaku antara lain :

  1. Sesuatu yang diperoleh dengan mudah awalnya memang menguntungkan, tetapi pada akhirnya tidak baik akibatnya.
  2. Sesuatu yang digunakan secara berlebihan atau sembarangan dapat berakibat negatif baik bagi dirinya maupun orang lain.
  3. Mengajarkan kepada para guru –murid-orang tua untuk saling berinteraksi secara reguler.
  4. Mengajarkan kepada orangtua akibat pola didik keras tidak baik bagi anak-anak dan sebaliknya.
  5. Perbedaan sifat manusia dapat menjadi tim yang baik untuk mencapai tujuan jika dikelola dengan baik dan benar.

Disamping ajaran yang positif, juga terdapat kebiasaan-kebiasaan para tokoh yang

merupakan kebiasaan atau ajaran negatif antara lain:

1. Sering para tokoh mengatakan sesuatu yang kurang sopan seperti bodoh, pelit, brengsek dll.

2. Dalam film ini juga seolah-olah anak sekolah dasar sah-sah saja bercinta. Memang meskipun hal ini merupakan kenyataan, namun dampaknya menjadi kurang baik terhadap perilaku anak-anak.

3. Mengajarkan berangan-angan yang tidak logis.

4. Menolong tanpa pertimbangan.

5. Menggambarkan pola didik dan sikap anak-anak yang kurang baik terhadap orang tua. Memang hal ini merupakan kenyataan yang ada di masyarakat.

 

 

Harta tidak lebih dari segelas air

Pada suatu hari yang begitu cerah ada seorang raja yang mempunyai hoby berburu dan hari itu pula dia memerntahkan anak buahnya menyiapkan perbekalan . kemudian raja tersebut berangkat berburu sendiri tanpa mau dikawal oleh prajuritnya dan mulailah perburuannya masuk ke hutan. Di dalam hutan sang raja banyak menemui hewan buruannya tapi belum terkejar, saat asik istirahat sambil meletakkan barang bawaannya lewatlah seekor kijang besar sang raja sungguh kaget dengan reflek dia mengambil tombaknya dan langsung memburu kijang tersebut dengan langkah seribu kijang tersebut sontak lari terbirit-birit dan sang rajapun mengejarnya dengan susah payah akhirnya kijang tersebut lolos dari tombak sang raja. Setelah lelah mengejar kijang tersebut sang raja menyerah dan duduk dibawah pohon dan saat itu jug dia baru sadar jikalau dia sedang nyasar dan semua barang bawaannya ketinggalan. Tenggorokannya terasa kering perutnya keroncongan dan dia tidak tau lagi apa yabng harsu dilakukan padahal sebagai seorang raja di istananya pastilah begitu banyak makanan, miniuman, harta yang melimpah tetapi saat ini dia tidak berdaya. Kemudian dia berkata jika ada yang mau memberiku segekas air ambilah seluruh harta dan kekuasaanku kemudian datanglah seorang petani miskin yang mempunyai bekal segelas air diberikanlah air tersebut kepada raja dan akhirnya sang raja mengganti seluruh istananya dengan segelas air. Subhanallah ternyata harta untuk kehidupan kita bukanlah satu-satunya tujuan akhir kita Allah maha pemurah dan maha pengasih Ia bisa saja memberikan seseorang istana dalam satu detik dan juga bisa membuat seseorang miskin dalam sekejap oleh karena itu mari kita kembali luruskan niat kita sebenarnya apa dan untuk apa hakikat kita hidup di dunia ini karena”HARTA TIDAK LEBIH DARI SEGELAS AIR”

MODIFIKASI PERILAKU Reward atau Punishmentkah yang efektif??

Dalam mendidik anak dalam era global ini haruslah sangat jeli dan kritis. Orang tua harus mempertimbangkan lagi masih efektifkah bimbingan reward and punishment?? reinforecement??..dalam sejarah mendidik anak ada satu kisah sangat menarik yang berasal dari india, anak dari seorang pejabat tapi mereka hidup di tengah daerah terpencil, pada suatu waktu ayahnya mendapat undangan untuk menghadiri acara di kota dan sang ayah mengajaknya untuk menemani, tidak bisa dielakkan lagi perasaan anak tersebut sangat senang karena dia bisa melihat keramaian kota, orang-orang modern, nonton bioskop dan kegiatan lain yang menyenangkan. Pada hari yang ditentukan mereka berangkat dan seperti rencana mereka berangkat dengan dibekali daftar belanjaan dari ibu yang harus dibeli. Akhirnya sampai dikota sang ayah menghadiri acara digedung pertemuan dan mereka mengadakan perjanjian untuk bertemu lagi digedung tersebut jam16 sore, dan anak tersebut segera menyelesaikan tugas belanjanya dan memperbaiki mobil kebengkel, selama mobil diperbaiki ia pergi menonton bioskop dan tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, dan anak tersebut sangat kaget sehingga dia bergegas menuju bengkel untuk mengambil mobil dan langsung meluncur kegedung pertemuan tempat ayahnya menghadiri acara. Ternyata disana sang ayah sudah menunggu dan bertanya, dari manakah kamu? Anak tersebut menjawab “tadi menunggu mobil belum selesai diperbaiki” tetapi tanpa sepengetahuan anaknya sang ayah berkali-kali menelpon kebengkel menanyakan perihal keberadaan sang anak. Setelah mendengar jawaban anak tadi sang ayah meneteskan air mata seraya mengatakan “apa yang telah aku lakukan dalam mendidikmu sampai-sampai kamu berani berbohong?”. Setelah peristiwa tersebut sang ayah manghukum dirinya sendiri dengan berjalan kaki dari kota tersebut sampai rumah dan sang anak mengikuti ayahnya dengan mobil dari belakang dan sang ayah berharap agar saat dijalan mendapatkan pencerahan atau jalan keluar dari masalah tersebut. Dari peristiwa itu sang anak bisa tersadar tanpa ada hukuman, hadiah atau apapun.naahh….dari ilustrasi diatas maka kita bisa mengambil kesimpulan solusi yang mana yang paling efektif untuk mendidik seorang anak.

Ide merupakan perintah Allah

Saat kita merenung, saat kita berkhayal dan mendapatkan “ahaaa” atau tyang kita sebut idem aka kita harus segera melakukan ide tersebut jika kita tidak segera melakukannya maka ide tersebut bias diambil orang. Ide dalam dunia usaha juga seperti ini jika kita mendapatkan insight kita harus segera merealisasikan ide tersebut karena itu merupakan perintah dari Allah.